The Great Song

Foto: KOMPAS.com/YAMIN ABD HASAN, Kamis (20/7/2017)

Saya selalu percaya bahwa waktu memiliki kemampuan menghapus kejadian apapun, bahkan kejadian yang paling mengerikan sekalipun. Percayalah waktu dapat melakukan itu. Waktu dapat membuat kita melupakan apapun. Tapi waktu juga dapat membawa kita kembali. Begitulah, tapi jangan mengatakan kata ‘seandainya’. Karena segalanya tidak perlu disesali sehingga harus repot berfantasi dengan kata ‘seandainya.’


Pernahkah kalian merasakan kembali ke kejadian yang telah berlalu saat mencium aroma tertentu, melihat sesuatu atau menyentuh sesuatu. Stimulinya bisa apa saja yang jelas sangat memungkinkan kita kembali pada masa lalu yang membuat kita membeku beberapa detik, bisa tersenyum, bisa menangis, bisa tertawa.


Suatu malam di kala hujan, saya terbangun. Karena tidak bisa tidur kembali, maka saya memutuskan beranjak dari kasur dan berencana membuat kopi. Entah karena rasa kantuk masih bergelantungan di tubuh atau memang rasa lelah menyelimuti setelah berhari-hari begadang mengerjakan beberapa project pitching yang belum juga goal, saya merasa gontai dan slebor hingga tidak mampu menopang tubuh dan jatuh. Pada momen inilah suatu kejadian dalam hidup saya kembali. Sangat jelas dan betapa kagetnya saya bisa merasakan lagi momen itu dengan jelas.


Kejadiannya pada bulan Juli tahun 2017, ketika saya masih bekerja di sebuah NGO (Non Governmental Organization) kesehatan yang memiliki tujuan menjangkau masyarakat terluar untuk mendapatkan akses kesehatan gratis melalui rumah sakit apung (sebuah kapal pinisi yang dimodifikasi menjadi rumah sakit) di wilayah Indonesia. Beberapa tujuan wilayah ditentukan, salah satunya di Pulau Mayau, Ternate, Maluku Utara. Akhirnya setelah merencanakan segala hal dari survey hingga pendataan relawan, terbentuklah tim pelayanan medis yang berjumlah 20 orang (16 tenaga medis dan 4 tenaga non medis). Kegiatannya direncakan pada 15-19 Juli 2017.


Dari Jakarta tim berangkat ke Ternate menggunakan pesawat terbang. Di sebuah rumah makan di Ternate tim menjadi lengkap karena waktu makan siang menjadi titik kumpul bagi anggota tim yang berasal dari Indonesia bagian timur. Kami berkenalan dan melanjutkan perjalanan menuju dermaga dan bersama-sama menaiki kapal Rumah Sakit Apung dan pelayaran menuju Pulau Mayau pun dimulai. Bukan perjalanan yang singkat, sekitar 15 jam pelayaran dari ternate menuju Pulau Mayau.


Saat itu ombak tidak begitu ramah. Beberapa anggota tim sempat mabuk laut karena gelombang yang lumayan mengaduk-ngaduk lambung kapal. Beberapa anggota tim tertidur pulas dengan bantuan obat anti mabuk perjalanan yang dipaksakan ditelan untuk mensubsitusi mual menjadi rasa kantuk. Singkat cerita kami sampai di Pulau Mayau, Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, dengan kepala yang berat sisa terombang ambing semalaman.


Saya sibuk mencari akses ke darat (pada saat itu kapal harus melempar jangkar karena tidak ada tempat berlabuh) untuk menyegarkan tubuh sambil mencari informasi terkait hal-hal menarik yang bisa saya dokumentasikan. Tentu saja saya juga rindu merokok. Ketika saya menyalakan rokok pertama, setelah menahan mulut yang asam selama 15 jam, beberapa warga memandangi saya dengan aneh. Tenyata, ada aturan tidak boleh merokok di Pulau Mayau ini. Alhasil saya mencari ‘persembunyian’ di tempat asing, disaat itu juga saya tahu apa yang akan saya tulis. Asap mengepul lewat senyuman pada pagi itu, selain saya tahu topik yang akan saya tulis, warga yang tadi memandangi saya datang membawakan kopi. Ternyata saya ada ditempat persembunyian para perokok.


Pada pelayanan ini saya bertugas mendokumentasikan kegiatan, jadi tidak terlalu sibuk mengurus koordinasi seperti pelayanan yang biasa dilakukan sebelum dan sesudah pelayanan ini. Ada Panji dan Cynthia yang mengkoordinir kegiatan, jadi saya akan cukup khidmat mengobrol dengan warga setempat dan mengamati keadaan daerah ini dengan lumayan santai. Bisa keluar masuk rumah warga untuk bersosialisasi setelah selesai mendokumentasikan kegiatan utama.


Singkat cerita lagi, tim berhasil mengobati warga desa dengan lancar. Rabu sore hari tanggal 19 Juli 2017, saya duduk-duduk sebelum bertolak pulang dengan beberapa anggota tim, kapten kapal dan warga sekitar. Mata saya menyapu lautan sejauh yang saya lihat. Gelombang saat itu terlihat tinggi dan cuaca cukup mendung. Sebelumnya memang telah turun hujan sekitar pukul 12.00 WIT. Saya juga sempat berteduh di rumah warga dan mencicipi pisang goreng.


“Kap, kita jadi pulang sekarang?” ujar saya, kepada Kapten Handoko.

“Iya, Mas. Besok juga cuaca belum tentu membaik. Sekarang aja kita pulang.”

“Besok aja, Mas pulangnya!” ujar salah seorang warga menimpali obrolan kami berdua.


Saya tersenyum saja kepada seorang mama yang berteriak tersebut, karena saya setuju dengan Kapten bahwa kita seharusnya bisa pulang hari ini. Saya sadari saat itu, tingginya intensitas perjalanan membuat saya tidak begitu peka terhadap keadaan alam yang terjadi disekitar. Semuanya harus sesuai jadwal yang dibuat dan mengesampingkan hal-hal yang seharusnya tidak bisa dianggap enteng. Padahal selama disana saya banyak berbincang dengan warga yang mengatakan bahwa ombak sedang tinggi dan semuanya menyarankan untuk tidak kembali pada hari itu. Usulannya adalah menunda kepulangan kami 1-2 hari.


Setelah kenyang menikmati sore, saya dan Kapten berpamitan dengan warga di sekitar dan menuju sekoci untuk naik ke kapal. Setelah magrib ombak masih terlihat kuat tapi keinginan pulang pun juga kuat. Maka mesin kapal dinyalakan dan semua tim menyimpan harapannya kembali pada beberapa antihistamin berharap perjalanan ini penuh mimpi indah dan sampai di Ternate dengan imut sehabis bobo cantik.


Kenyataannya pada dua jam pertama pelayaran sudah mulai terasa jika laut benar-benar sedang mendidih. Kami masih meneruskan pelayaran dengan guncangan yang luar biasa. Saya menyerah juga, akhirnya menelan antihistamin dan memaksakan diri untuk berbaring berharap tidur menjadi jalan pintas melewati gelombang. Akhirnya saya terbangun dan mencium bau suar yang sudah ditembakan. Betapa kagetnya ketika melihat barang-barang yang ada di kapal sudah berhamburan tidak karuan. Ada botol kecap di lantai, ada Panci, laptop, dan semua yang tidak seharusnya menggambarkan definisi kapal pecah yang sebenarnya.


Pada saat itu juga saya menyadari semua anggota tim sudah menggunakan life vest dan sibuk berdoa dengan tatapan kosong. Empat kali juga suar sudah ditembakan ke langit, namun langit tak mendengar (seperti lagu peterpan…).


“Kalo dua jam lagi gak ada yang bisa kita kontak, wes tenggelam, sudah” Kata Kapten, yang sudah terlihat mulai hilang harapan.


Saya bergegas turun ke lambung kapal untuk melihat keadaan sambil mengambil Kamera dan lensa di tas saya. Posisi saya memang sudah di anjungan, karena gelombang yang luar biasa saya meninggalkan lambung kapal dan memutuskan tidur di buritan untuk meminimalkan rasa mual. Ketika saya sampai di lambung kapal, air sudah setinggi paha saya. Saya terpeleset dan jatuh. Segera saya memaksa diri untuk berdiri lagi dan menemukan tas kamera saya ada diatas meja, hanya satu jengkal lagi mungkin akan terendam air. Setelah membawa barang-barang yang saya rasa penting seperti handphone, jaket atau apapun yang saya rasa masih berguna jika memang kita selamat nanti, saya kembali naik melewati geladak dan menuju anjungan.


“Vil, udah mau mati masih ngurusin kamera!” terdengar suara dari salah satu relawan.


Saya menghiraukannya, jujur saya bingung saat itu. Apakah saya takut? Apakah saya akan mati? Apakah harus berdoa? banyak pertanyaan yang timbul di kepala saya. Satu-satunya yang saya ingat adalah telepon satelit. Segera saya menanyakan telepon satelit kepada crew kapal, saya langsung menghidupkannya dan lari ke geladak kapal. Saya mencari sinyal ditengah hujan dan badai serta ombak yang jika saya ingat-ingat lagi mungkin tiga meter tingginya dari kepala saya.


Setelah telepon satelit menangkap sinyal saya langsung menghubungi penanggung jawab kapal di Jakarta, dr. Christ. Saya menghubungi via telepon tapi sinyal tidak stabil, akhirnya melalui sms saya mengabarkan secara singkat keadaan yang sedang dihadapi. Ternyata langsung ada balasan, saya juga yakin dr. Christ langsung mengabari Polairud di Ternate dan Tim SAR. Tanpa sadar pencarian sinyal membawa saya ke haluan kapal. Saya basah kuyup. Rasa mual mulai tidak bisa ditahan, saya menyemburkan muntah ke laut yang cukup membuat saya mengeluarkan cairan kuning yang menyakitkan.


Saat itu juga ada sebuah lampu merah terlihat di kejauhan. Jangan menganggap kita semua sudah dalam keadaan mudah. Mesin kapal kami sudah mati sebagian, habis terendam air. Kapal sudah tidak bisa berjalan dengan seharusnya. Kami terombang ambing layaknya sabut kelapa. Saya melihat di dalam tim sudah menyalakan perangkat radio untuk memberi pesan terhadap lampu merah yang disinyalir adalah sebuah kapal.


Saat itu pukul 03.00 WIT, ketika Cynthia dan David bergantian mengabari kapal di depan kita dengan pesawat radio. Bahasa Inggris dan Mandarin bercampur aduk. Tapi respon dari kapal di seberang sana nampaknya ragu-ragu. Sedikit gambaran saja, jalur laut Indonesia yang merupakan 2/3 bagian dari total perairan Asia Tenggara adalah jalur perdagangan laut internasional yang menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasific yang pada saat itu, baru saja terjadi pembajakan dan penyandaraan yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf. Wajar jika kapal yang kami kontak merasa harus memastikan bahwa kami bukan perompak.


Satu jam berlalu, gambaran sebuah kapal tongkang besar bertuliskan ‘Great Song’ mulai jelas terlihat. Walaupun lautan masih cukup gelap tapi hati saya mulai terang, dan saya meyakini semua anggota tim pun demikian. Beberapa pertanyaan dari kapal Great Song sudah kami penuhi melalui telinga dan mulut David yang fasih berbahasa mandarin. Mulai dari pertanyaan mengapa kami ada di perairan tersebut sampai bukti bahwa ada tenaga medis perempuan yang harus berbaris di geladak. Kapal asal Hongkong itu akhirnya bersedia mengevakuasi kami.


Tepat di atas tulang pergelangan tangan saya, waktu menunjukkan pukul 07.00 WIT. Saat itu Great Song sudah berdampingan dengan Rumah Sakit Apung. Crew mereka melemparkan sebuah “tangga monyet” yang jika secara kasar dihitung mungkin tingginya diatas 6 meter. Bergantianlah tim memanjat tangga tersebut untuk sampai ke kapal Great Song. Kami berhasil melewati badai semalaman, menikmati hidangan hangat dari dapur kapal yang sebesar dermaga tersebut. Satu jam kemudian kapal KN SAR 237 Pandudewanata milik Basarnas tiba di lokasi bersama KP Gamalama Polda Malut dan KAL Tidore Lanal Ternate.


Kami sampai di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, atas bantuan Dir Polair Polda Maluku Utara saat itu, Kombes Pol Arief Budi Winofa, pada Kamis, 20 Juli 2017. Alih-alih kembali sehabis bobo cantik, kami malah turun dari kapal tanpa menggunakan alas kaki dan tentu disambut puluhan kamera membidik kami sebagai subjek berita. Setelah kejadian itu, saya masih melakukan kegiatan pelayanan medis gratis menggunakan kapal yang sama ke Lampung, Mamuju, Papua, sampai akhirnya kapal tersebut bersemayam di perairan Bima, Nusa Tenggara Barat, saat berlayar dari Kupang menuju Torano pada tahun 2021.


Sumber:

https://www.doctorshare.org/2017/07/31/2992/siaran-pers-badai-hantam-rsa-dr-lie-dharmawan-20-juli-2017.html

https://kieraha.com/maluku-utara/dokter-dokter-cantik-nyaris-tenggelam-di-laut-ternate/

https://pemilu.kompas.com/read/2017/07/20/11173731/kapal-rumah-sakit-apung-dr-lie-dihantam-badai-di-perairan-ternate

https://nasional.tempo.co/read/1475382/rumah-sakit-apung-dr-lie-dharmawan-karam-di-teluk-sape-warganet-ramai-berempati

https://www.kompas.tv/nasional/185099/rs-apung-dr-lie-tenggelam-6-orang-di-dalamnya-berhasil-menyelamatkan-diri

https://kieraha.com/maluku-utara/kapal-pengangkut-dokter-cantik-sempat-dikira-bajak-laut/

https://www.marinetraffic.com/en/ais/details/ships/shipid:688019/mmsi:477550900/imo:9452476/vessel:GREAT_SONG#:~:text=GREAT SONG (IMO%3A 9452476),her width is 46 meters.



Featured writing

Tidak dapat diketahui pasti umur pernikahan Ibu Neter dan Bapak Sijuljang. Mereka adalah pasangan suami istri yang berasal dari Suku Anak Dalam, Jambi.

Kematian pasti meninggalkan kesedihan bagi tiap orang yang ditinggalkan. Seperih apapun ditinggal orang tersayang (orang tua, adik, kakak, kekasih), tak dapat membuat mereka kembali.


Sepanjang melakukan perjalanan ke wilayah pelosok di Timur Indonesia, rasanya baru kali ini menemukan tempat yang bebas asap rokok dan ada larangan minum minuman keras.

Jalan panjang terbentang dari kota paling timur di NTT (Nusa Tenggara Timur), Atambua, menuju teras perbatasan NKRI – Timor Leste di Motaain. Ini adalah jalan nasional. Jalan berkelok dari Atambua – Atapupu menuju Motaain ini jadi saksi Referendum 1999 yang berlumur darah.

Apa kabar dengan Desa Biandoga yang terhalang pegunungan?

Aku selalu ingat setiap Tuan keranjingan. Mengetik hingga pagi tanpa menyisakan waktu beristirahat. Menuangkan pikirannya ke tubuh kami. Mengetik cerita mengenai pribumi yang dibonsaikan oleh para penjajah.

Saya selalu percaya bahwa waktu memiliki kemampuan menghapus kejadian apapun, bahkan kejadian yang paling mengerikan sekalipun. Percayalah waktu dapat melakukan itu. Waktu dapat membuat kita melupakan apapun. Tapi waktu juga dapat membawa kita kembali.